Powered By Blogger

Minggu, 15 Januari 2012

HERPES SIMPLEKS

Definisi
Herpes simplex adalah infeksi akut oleh virus Herpes Simplex (virus Herpes Hominis) tipe I dan tipe IIyang ditandai dengan vesikel  berkelompok diatas kulit yang eritematosa di daerah mukokutan. Dapat berlangsung primer maupun rekurens. Herpes simplex disebut juga fever blister, cold score, herpes febrilis, herpes labialis, herpes progenitalis(genitalis)
Infeksi herpes simpleks ditandai dengan episode berulang dari lepuhan-lepuhan kecil di kulit atau selaput lendir, yang berisi cairan dan terasa nyeri. Ciri-ciri Herpes simplex adalah adanya bintil-bintil kecil, bisa satu atau sekumpulan, yang berisi cairan, dan jika pecah bisa menyebabkan peradangan. Bintil-bintil ini biasanya muncul di daerah muco-cutaneous, atau daerah dimana kulit bertemu dengan lapisan membrane mukosa. Di wajah, daerah ini berlokasi di pertemuan bibir dengan kulit wajah. Para penderita herpes simplex biasanya merasakan adanya perasaan geli di daerah tersebut sebelum munculnya bintil-bintil tadi.
                                    Herpes Simplex
Virus herpes simpleks adalah merupakan virus DNA, dan seperti virus DNA yang lain mempunyai karakteristik melakukan replikasi didalam inti sel dan membentuk intranuclear inclusion body. Intranuclear inclusion body yang matang perlu dibedakan dari sitomegalovirus. Karakteristik dari lesi adalah adanya central intranuclear inclusion body eosinofilik yang ireguler yang dibatasi oleh fragmen perifer dari kromatin pada tepi membran inti.


b.    Etiologi
Virus Herpes Simplek (VHS) tipe I dan tipe II adalah Herpes hominis yang termasuk virus DNA

c.     Manifestasi Klinis
1.      Infeksi primer yang biasanya disertai gejala ( simtomatik ) meskipun dapat pula tanpa gejala ( asimtomatik ). Keadaan tanpa gejala kemungkinan karena adanya imunitas tertentu dari antibodi yang bereaksi silang dan diperoleh setelah menderita infeksi tipe 1 saat anak-anak. Masa inkubasi yang khas selama 3 – 6 hari ( masa inkubasi terpendek yang pernah ditemukan 48 jam ) yang diikuti dengan erupsi papuler dengan rasa gatal, atau pegal-pegal yang kemudian menjadi nyeri dan pembentukan vesikel dengan lesi vulva dan perineum yang multipel dan dapat menyatu. Adenopati inguinalis yang bisa menjadi sangat parah. Gejala sistemik mirip influenza yang bersifat sepintas sering ditemukan dan mungkin disebabkan oleh viremia. Vesikel yang terbentuk pada perineum dan vulva mudah terkena trauma dan dapat terjadi ulserasi serta terjangkit infeksi sekunder. Lesi pada vulva cenderung menimbulkan nyeri yang hebat dan dapat mengakibatkan disabilitas yang berat. Retensi urin dapat terjadi karena rasa nyeri yang ditimbulkan ketika buang air kecil atau terkenanya nervus sakralis. Dalam waktu 2 – 4 minggu, semua keluhan dan gejala infeksi akan menghilang tetapi dapat kambuh lagi karena terjadinya reaktivasi virus dari ganglion saraf. Kelainan pada serviks sering ditemukan pada infeksi primer dan dapat memperlihatkan inflamasi serta ulserasi atau tidak menimbulkan gejala klinis.
2.      Fase Laten. Tidak ditemukan gejala klinis , tetapi VHS dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis. Penularan dapat terjadi pada fase ini, akibat pelepasan virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah sedikit.
3.      Infeksi rekuren. Setelah infeksi mukokutaneus yang primer, pertikel-partikel virus akan menyerang sejumlah ganglion saraf yang berhubungan dan menimbulkan infeksi laten yang berlangsung lama. Infeksi laten dimana partikel-partikel virus terdapat dalam ganglion saraf secara berkala akan terputus oleh reaktivasi virus yang disebut infeksi rekuren yang mengakibatkan infeksi yang asimtomatik secara klinis ( pelepasan virus ) dengan atau tanpa lesi yang simtomatik. Lesi ini umumnya tidak banyak, tidak begitu nyeri serta melepaskan virus untuk periode waktu yang lebih singkat (2 – 5 hari) dibandingkan dengan yang terjadi pada infeksi primer, dan secara khas akan timbul lagi pada lokasi yang sama. Walaupun sering terlihat pada infeksi primer, infeksi serviks tidak begitu sering terjadi pada infeksi yang rekuren.
d.    Patofisiologi
Herpes simpleks menyebabkan timbulnya erupsi pada kulit atau selaput lendir. Erupsi ini akan menghilang meskipun virusnya tetap ada dalam keadaan tidak aktif di dalam ganglia (badan sel saraf), yang mempersarafi rasa pada daerah yang terinfeksi.
Secara periodik, virus ini akan kembali aktif dan mulai berkembangbiak, seringkali menyebabkan erupsi kulit berupa lepuhan pada lokasi yang sama dengan infeksi sebelumnya.

e.     Pathway
Kontak Langsung                                                             Kontak Seksual                      


 



                                          Virus Herpes Simplex (VHS) I

                             
                                          Perkembangan VHS I


 


Infeksi primer                    Fase Laten                   Infeksi Rekuren

Gejala sistomik                  VHS tidak aktif pd          ganglion saraf
Gejala asimtomatik           ganglion dorsalis                    

                                                                                      Infeksi laten


f.      Pemeriksaan Penunjang
Virus Herpes dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Jika tidak ada lesi dapat diperiksa antibody VHS. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dari bahan vesikel dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear.
g.     Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
·         Belum ada terapi medical
·         Pada episode pertama berikan :
-          asiclovyr 200mg per oral 5 x sehari selama 7 hari, atau
-          asiclovyr 5mg/kgBB, Intravena tiap 8 jam selama 7 hari(bila gejala sistemik berat)
-          preparat isoprinosin sebagai imunomodulator
-          asiclovyr parenteral atau preparat adenine arabinosid (vitarabin) untuk penyakit yang lebih berat atau jika timbul komplikasi pada alat dalam.
·         Pada episode rekurensi , umumnya tidak perlu diobati karena bisa membaik, namun bila perlu dapat diobati dengan krim Asiclovyr. Bila pasien dengan gejala berat dan lama, berikan asiclovyr 200mg per oral 5 x sehari, selama 5 hari. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan kompres.

Untuk sebagian besar penderita, satu-satunya pengobatan herpes labialis adalah menjaga kebersihan daerah yang terinfeksi dengan mencucinya dengan sabun dan air. Lalu daerah tersebut dikeringkan karena jika dibiarkan lembab maka akan memperburuk peradangan, memperlambat penyembuhan dan mempermudah terjadinya infeksi bakteri.
Untuk mencegah atau mengobati suatu infeksi bakteri, bisa diberikan salep antibiotik (misalnya neomisin-basitrasin). Jika infeksi bakteri semakin hebat atau menyebabkan gejala tambahan, bisa diberikan antibiotik per-oral atau suntikan.
Krim anti-virus (misalnya idoksuridin, trifluridin dan asiklovir) kadang dioleskan langsung pada lepuhan. Asiklovir atau vidarabin per-oral bisa digunakan untuk infeksi herpes yang berat dan meluas. Kadang asiklovir perlu dikonsumsi setiap hari untuk menekan timbulnya kembali erupsi kulit, terutama jika mengenai daerah kelamin. Untuk keratitis herpes simpleks atau herpes genitalis diperlukan pengobatan khusus.

h.    Pengkajian Keperawatan

Identitas

Nama pasien                : Tn. K
Umur                           : 25 tahun
Jenis kelamin               : Laki- laki
Suku/ bangsa               : Jawa/ Indonesia
Agama                         : HINDU
Pendidikan                   : SLTA
Pekerjaan                     : PNS
Alamat                         : jl Mangga, Sleman YOGYAKARTA
MRS                            : 07 Maret 2009, Jam 09.10 WIB, diantar keluarga.
Tgl pengkajian : 7 Maret 2011, Jam 10.35 WIB

1.1  Riwayat Keperawatan
1.1.1        Riwayat Perawatan Sekarang
Riwayat kesehatan keluarga Tuan K. 25 tahun datang kerumah sakit dengan keluhan adanya rasa tidak nyaman dan adanya lepuhan yang dikelilingi oleh daerah kemerahan membentuk sebuah gelembung cair pada daerah bibir. Sebelumnya Tuan K mengalami gatal-gatal selama 2 hari. Tuan K mengeluh nyeri.

1.1.2        Riwayat keperawatan yang lalu
Keluarga tidak ada yang pernah menderita sakit yang dialami pasien saat ini.

1.1.3        Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga tidak ada yang pernah menderita sakit yang dialami pasien saat ini dan keluarga serta pasien tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, DM maupun hipertensi

 




 

PENGKAJIAN POLA FUNGSIONAL GORDON


  1. Pola manajemen kesehatan
Pasien mengatakan jika ada keluarga yang sakit maka segera dibawa tempat pelayanan kesehatan terdekat baik itu poliklinik maupun dokter.
  1. Pola nutrisi
Sebelum sakit pasien makan dengan porsi sedang 3 x sehari ditambah makanan ringan serta minum 4 gelas/ hari. Namun saat sakit nafsu makan pasien berkurang, tetapi tidak sampai kehilangan nafsu makan. Di rumah sakit pasien masih dapat menghabiskan porsi makannya.

  1. Pola eliminasi
Untuk BAB dan BAK pasien tidak mengalami gangguan selama sakitnya yaitu 1x BAB dan 4x BAK.
  1. Pola persepsi dan kognitif
Pasien tidak mengalami disorientasi tempat dan waktu. Semua alat indera pasien masih berfungsi dalam batas normal.
  1. Pola aktivitas
Pasien beraktivitas seperti biasa yaitu pergi ke kantor untuk bekerja, dan melakukan kegiatan yang lain sesuai dengan rutinitasnya.
  1. Pola tidur dan istirahat
Sebelum sakit pasien tidak ada keluhan dengan kebiasaan tidurnya yaitu 6- 8 jam/ hari. Ketika sakit pasien kadang mengeluh kesulitan untuk tidur karena merasakan nyeri.
  1. Pola persepsi diri dan konsep diri
Pasien tahu kondisinya penyakitnya saat ini dan akan berusaha menerima segala kondisinya saat ini. Pasien tidak merasa malu dan rendah diri dengan kondisinya saat ini.
  1. Pola peran dan hubungan
Pasien tidak mengalami masalah dalam hubungan sosialnya. Pasien merupakan kepala keluarga dari istri dan seorang anaknya dan merupakan tulang punggung bagi perekonomian keluarganya di samping istrinya.
  1. Pola seksualitas dan reproduksi
Pasien berjenis kelamin laki – laki, sudah menikah dengan seorang istri dan telah memiliki seorang anak.
  1. Pola koping dan toleransi stress
Pasien merasa yakin bahwa suatu saat penyakitnya akan sembuh, tetapi harus memerlukan suatu usaha dan tak lupa untuk terus berdoa.
  1. Pola nilai dan kepercayaan/ agama
Pasien masih menjalankan ibadah rutin.

1.2  Pemeriksaan fisik
Kesadaran              : Composmetis
Tekanan Darah      : 130/ 90 mmHg
Nadi                       : 112 x/ menit
Pernafasan             : 22 x/ menit
Suhu tubuh                        : 37,5 0 C

Kulit :
Kulit lembab, bersih, turgor baik, tidak terdapat pitting edema, warna kulit sawo matang, tidak ada hiperpigmentasi.

Kepala :
Bentuk kepala mesosephal, bersih, tidak berbau, tidak ada lesi, rambut hitam lurus.

Mata :
Isokor, reflek pupil simetris, diameter pupil ± 4 mm, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikteric, tidak ada ptosis, koordinasi gerak mata simetris dan mampu mengikuti pergerakan benda secara terbatas dalam 6 titik sudut pandang yang berbeda.

Hidung :
Simetris, bersih, tidak ada polip hidung, cuping hidung tidak ada.


Telinga :
Simetris, bersih, tidak ada tanda peradangan ditelinga/ mastoid. Cerumen tidak ada, reflek suara baik dan telinga sedikit berdenging.



Mulut :
Bibir tidak cyanosis, mukosa bibir lembab, lidah bersih, tidak ada pembesaran tonsil, tidak ada stomatitis dan gigi masih genap. Sekitar bibir terdapat bintik bintik kemerahan yang membentuk gelembung yang berisi cairan.

Leher :
Simetris, tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid.

Dada :
         Jantung
         Inspeksi              : Simetris, statis, dinamis
         Palpasi                : teraba normal
         Perkusi                : Konfigurasi jantung dalam batas normal
         Auskultasi           : normal
          
         Paru – paru
         Inspeksi              : Simetris, statis, dinamis
         Palpasi                : Sterm fremitus kanan = kiri
         Perkusi                : Sonor seluruh lapang paru
         Auskultasi           : Suara dasar vesikuler, suara tambahan ( - )
Perut :
         Inspeksi              : Datar
         Palpasi                : Supel, tidak ada massa
         Perkusi                : timpani
         Auskultasi           : bising usus ( + )
Ekstrimitas :
Tidak ditemukan lesi maupun udem pada ektrimitas atas maupun bawah.



i.       Diagnosa Keperawatan
-    Nyeri b.d. penyakit yang ditandai dengan Raut wajah Tuan K tampak menahan nyeri ,kesadaran composmetis, Suhu 370C ,Tekanan Darah 130/90mmHg ,Nadi 112x/ mnt ,Leukosit <4000 mmk ,Tuan K mengatakan dia mengalami gatal-gatal selama 2 hari dan Tuan K mengeluh nyeri
-    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. hilangnya nafsu makan ditandai dengan BB turun dari 65 menjadi 60, Tuan K mengatakan tidak nafsu makan karena sulit mengunyah atau menelan, Istri klien mengatakan Tuan K hanya dapat menghabiskan 5 sendok makan setiap kali makan

j.       Rencana Perawatan
-                Pantau bintik- bintik kemerahan pada bibir pasien
-                Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
-                Kolaborasi pemberian analgetik ( asam mefenamat)
-                Kolaborasi pemberian asiklovir
-                Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan
-                Ketahui makanan kesukaan pasien
-                Timbang pasien pada interval yang tepat
-                Ajarkan pasien dan keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
-                Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan nutrisi untuk pasien dengan ketidakadekuatan asupan nutrisi atau kehilangan nutrisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar