Kulit
merupakan bagian tubuh paling luar yang terdiri atas lapisan epidermis,
dermis dan subkutis. Epidermis terdiri atas beberapa lapis lagi. Paling
atas adalah lapisan tanduk (stratum korneum). Berturut-turut di
bawahnya stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan
stratum basale (terdiri atas sel keratinosit dan melanosit). Adapun
lapisan dermis mempunyai dua bagian yaitu pars papilare dan pars
retikulare. Lapisan kulit paling bawah adalah subskutis yang dibentuk
oleh jaringan lemak. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi,
pembuluh darah dan getah bening.Selain lapisan-lapisan di atas, kulit
juga terdiri atas kelenjar-kelenjar kulit, rambut dan kuku. Semuanya
itu disebut adneksa kulit. Kelenjar kulit terletak di lapisan dermis
yang terdiri atas kelenjar keringat (glandula sudorifera) dan kelenjar
palit (glandula sebasea). Rambut terdiri atas bagian yang berada di
bawah kulit (akar rambut) dan yang di atas kulit (batang rambut).
Sedangkan kuku merupakan penebalan lapisan tanduk di ujung-ujung jari
tangan dan kaki. ( www.kankerkulit.com diakses 23 desember 2010 ).
Kulit
merupakan organ yang paling luas permukaan nya yang membungkus seluruh
bagian luar tubuh sehingga kulit sebagai pelindung tubuh terhadap
bahaya bahan kimia.
Fungsi kulit :
· Sebagai proteksi. Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis dan mekanis.
· Sebagai
proteksi rangsangan kimia. Dapat terjadi karena sifat stratum kornium
yang impermiabel terhadap berbagaizat kimia dan air.
· Fungsi
absorsi. Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan ,dan benda
padat tetapi larutan yang mudah menguap mudah di serap begitu juayang
larut dalam lemak.
· Fungsi kulit sebagai pengatur panas.
· Fungsi
ekskresi. Kelenjar kulit mengeluarkan zat – zat yang tidak berguna lagi
atau zat sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl dan amoniak.
· Fungsi
persepsi.kulit mengandung ujung – ujung syaraf sensorik di dermis dan
sub kutis respon terhadap rangsangan panas di perankan oleh dermis dan
subkutis, terhadap dingin di perankan oleh dermis perabaan diperan kan
oleh papila dermis dan markel renvier, sedangkan tekanan di perankan
oleh epidermis . ( syarifudin,2006 : 314 -316 ).

Kulit
terdiri atas dua lapisan epidermis dan dermis di bawah nya meskin
secara teknis bukan bagian kulit, hipodermis berada di bawah dermis.
Kulit melakukan berbagai fungsi :
· Perlindungan diberi oleh kulit dari invansi biologi, kerusakan kulit dan radiasi ultra violet
· Sensasi sentuhan rasa sakit dan panas di berikan oleh ujung syaraf
· Termoregulasi ( pengaturan suhu) di tunjang melalui berkeringat dan pengaturan aliran darah yang melewati kulit
· Metabolisme vitamin D ada di kulit
· Penyimpanan darah yang dapat di pindahkan kebagian tubuh yang lain ketika di perlukan terjadi di dalam kulit
· Eksresi/
pengeluaran garam dan sejumlah zat sisa ( amoniak dan urea) terjadi
dalam produksi keringat. ( Anatomi dan Fisiologi,Phillip E.Pack,Ph.D
:2007 hal 54 – 55).
2. Pengertian
Kanker
merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel
jaringan tubuh yang tidak normal dan tidak terkontrol sehingga bisa
mengganggu dan merusak sel-sel jaringan lain.
(www.nutritionist-to-be %23Patofisiologi - Sel Kanker.com di akses 23 desember 2010)
Kanker
kulit nonmalenoma adalah kanker yang tersering ditemukan di Amerika
Serikat, dengan perkiraan insidensi setiap tahunnya lebih dari 600.000
kasus. Karsinoma Sel Basal (KSB) merupakan 70 – 80% dari semua kanker
kulit nonmalenoma. Karsinoma Sel Skuamosa (KSS) walaupun hanya
merupakan 20% dari semua kanker kulit nonmalenoma, lebih bermakna
karena kemampuan metastasinya. Angka insidensi meningkat secara
dramatis sejak dekade terakhir ini. Walaupun lebih sering terjadi pada
laki-laki, sejak tahun-tahun terakhir perbedaan jenis kelamin ini
menjadi kurang menonjol. (Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam hal. 2073)
Kanker
kulit ialah suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel
kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan
mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain. Karena kulit terdiri atas
beberapa jenis sel, maka kanker kulit juga bermacam-macam sesuai dengan
jenis sel yang terkena. Akan tetapi yang paling sering terdapat adalah
karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma
maligna (MM). Karsinomasel basal dan karsinoma sel skuamosa seringkali digolongkan ke dalam kanker kulit non melanoma (KKNM). (www.kankerkulit.com diakses tanggal 23 desember 2010 ).
Melanoma
maligna adalah tahi lalat atau bercak kecoklatan kulit yang ganas dan
merupakan kanker kulit yang paling berbahaya. Kanker ini berkaitan
dengan pajanan yang berlebihan terhadap radiasi ultra violet paling
sering menyerang individu berkulit terang dan berambut pirang atau
merah. Penyakit ini ditandai perubahan dalam warna, bentuk dan ukuran
tahi lalat atau tahi lalat yang berdarah atau gatal. Prognosis
bergantung pada ketebalan breslow penetapan
stadium yang melibatkan penetuan status kelenjar limfe dengan biopsi
kelenjar sentinel. Karsinoma sel basal atau ulkus rodens merupakan
kanker kulit yang paling sering penyakit ini umum nya terkalit dengan
pajanan terhadap sinar matahari yang berlansung bertahun – tahun.
Misalnya individu yang bekerja di luar ( pekerja bangunan) atau mereka
yang berkulit terang dan tinggal di dekat khatulistiwa meskipun
menyebabkan kerusakan lokal yang luas namaun kanker ini tidak pernah
bermetatastis. Karsinoma sel skuamosa adalah sel kanker invasit yang
jika di biarkan dapat bermetastatis. Terapi kanker ini mungkin eksisi
yang luas. ( eksklopedia keperawatan: 2009 hal 334 – 335).
Etiologi
Penyebab
karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa adalah multifactor,
dengan faktor lingkungan dan pejamu berperan penting. Factor pejamu
selain usia dan jenis kelamin adalah keturunan Celtic, warna kulit
terang, kecenderungan mudah terbakar sinar matahari, radiodermatitis,
luka bakar termal, serta jaringan parut dan ulkus kronik tertentu.
Beberapa penyakit herediter dikaitkan dengan kanker kulit (mis.
Xeroderma pigmentosum). Di antara penyebab lingkungan, pajanan sinar
matahari, terutama spectrum ultraviolet B (UV-B), tampaknya merupakan
factor yang paling bermakna. Banyak terdapat bukti yang menunjang peran
pajanan UV-B kronik pada kulit dalam pathogenesis kanker kulit.
Insidensi tumor ini meningkat seiring dengan penurunan garis lintang.
Sebagian besar tumor timbul di bagian tubuh yang terpajan matahari di
kepala dan leher dan lebih sering di sisi kiri di Amerika Serikat dan
di sisi kanan di Inggris, mungkin berkaitan dengan pajanan asimetrik
sewaktu mengendarai mobil. Insidensi yang lebih tinggi terjadi pada
individu yang bekerja di luar rumah. Seiring dengan semakijn menipisnya
lapisan ozon protektif, dapat diperkirakan akan terjadi peningkatan
insidensi kanker kulit. Di antara karsinogen kimia, arsen adalah yang
terpenting. Pajanan biasanya melalui obat atau air sumur. Kanker kulit
pada individu yang terkena mungkin dijumpai dengan atau tanpa tanda
arsenisme kronik di kulit. Pasien transplantasi yang mendapat terapi
imunosupresif kronik sangat rentan terhadap karsinoma sel skuamosa.
Frekuensi kanker kulit setara dengan lama
imunosupresif dan tingkat pajanan matahari. Papilomavirus manusia (HPV)
dan UV-B dapat berfungsi sebagai kokarsinogen. Kanker kulit tidak
jarang ditemukan pada pasien yang terinfeksi oleh HIV dan mungkin lebih
agresif dalam situasi ini (lihat bab. 279). Seiring dengan meningkatnya
harapan hidup pasien HIV, kanker kulit mungkin juga akan semakin
menjadi masalah. (Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam hal. 2073)
Penyebab
lain karsinoma basal adalah pengobatan radiologi sebelumnya
menyembuhkan penyakit kulit lain, kontak dengan arsen, dan gangguan
genetik yang jarang ( xeroderma, pigmentorsum dan sindrom karsinoma sel
basal nevoid). Sinar ultra violet panjang UVA yang di pancarkan oleh
alat yang membuat kulit kecoklatan seperti terbakar sinar matahari dan
juga merusak epidermis dan di anggap sebagai karsinogenik. Karsinoma
sel skuamosa secara khas muncul pada kulit yang rusak karena sinar
matahari dengan keratosis aktinik multifel. Sinar matahari merupakan
faktor etiologi utama sel skuamosa. Kebayakan
melanoma maligna timbul pada usia 40 – 70 tahun tetapi ada peningkata
usia 20 – 40 tahun. ( patofisiologi, Sylvia A.Price : 2006 hal 1456
-1458 ).
Karsinoma
sel basal adalah keganasan yang berasal dari sel basal epidermis.
Terdapat beberapa tipe klinis karsinoma sel basal. Yang tersering
adalah karsinoma sel basal nodululseratif, yang berawal sebagai nodus
kecil berkilap seperti lilin, sering memperlihatkan pembuluh
telangiektatik di permukaannya. Ukuran nodus membesar perlahan dan
mungkin mengalami ulserasi di bagian tengahnya. Dapat ditemukan melanin
dalam jumlah bervariasi di dalam tumor. Karsinoma sel basal dengan
penimbunan pigmen dalam jumlah besar membentuk karsinoma sel basal
pigmen. Walaupun secara klinis tidak lebih agresif daripada varian
nodululseratif, tumor ini seperti dikira melanoma maligna. Karsinoma
sel basal morfeaformis (fibrosa) bermanifestasi sebagai plak soliter
yang datar atau sedikit cekung, berindurasi, dan keputihan atau
kekuningan. Batas biasanya tidak jelas. Dari varian karsinoma sel
basal, varian ini adalah yang paling agresif dan cenderung kambuh.
Karsinoma sel basal superficial terdiri dari satu atau beberapa plak
eritematosa berskuamosa yang membesar perlahan. Walaupun lebih sering
ditemukan di badan dan ekstremitas, kepala dan leher juga dapat
terkena. Lesi dapat disangka dermatosis meradang yang jinak, terutama
eczema numularis dan psoriasis. (Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam
hal. 2073)
Karsinoma
sel skuamosa (KSS) kulit primer adalah neoplasma maligna dari sel
epidermis yang mengalami keratinisasi. Tidak seeprti karsinoma sel
basal, yang memiliki potensi metastasis yang sangat rendah. Karsinoma
sel skuamosa dapat bermetastasis dan tumbuh cepat. Gambar klinis
karsinoma sel skuamosa sangat bervariasi. Umumnya muncul sebagai nodus
bertukak atau erosi superficial di kulit atau bibir bawah, tetapi lesi
juga dapat berupa papula atau plak verukosa. Tidak seperti karsinoma
sel basal, jarang dijumpai telangiektasia di atasnya. Batas tumor
mungkin tidak jelas, dan dapat berupa terjadi fiksasi ke jaringan di
bawahnya. Karsinoma sel skuamosa kulit dapat muncul di bagian tubuh
mana saja tetapi biasanya terdapat di kulit yang mengalami kerusakan
akibat pajanan matahari.
Karsinoma
sel skuamosa memiliki beberapa bentuk pramaligna (keratosis aktinik,
keilitis aktinik, dan sebagian kornu kutaneum) dan bentuk in situ
(mis. Penyakit Bowen) yang terbatas di epidermis. Keratosis aktinik
(KA) dan keilitis adalah papula dan plak hiperkeratotik yang timbul di
daerah terpajan sinar matahari. Walaupun potensi mengalami degenerasi
maligna rendah risiko karsinoma sel skuamosa meningkat seiring dengan
pertambahan jumlah lesi. Penyakit Bowen tampil sebagai plak eritematosa
berskuama yang terdapat di kulit yang terpajan matahari maupun yang
tertutup. Terdapat silang pendapat mengenai keterkaitan penyakit Bowen,
dengan keganasan alat dalam; namun, bukti-bukti terakhir mengisyaratkan
tidak adanya hubungan bermakna bila factor predisposisi lain (mis.
Arsen) tidak ada. Terapi lesi pramaligna dan lesi in situ mengurangi
risiko penyakit invasif. (Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam hal. 2074)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar